Kenangan Ramadan Paling Berkesan
By bungaungukecil - Mei 20, 2019
Kalau
ditanya, kenangan Ramadan mana yang paling berkesan? Sulit untuk menjawabnya.
Masing-masing Ramadan mempunyai kisahnya yang berbeda.
Kesan Ramadan terkuat yang saya
ingat, saat berada di sebuah kampung di wilayah Jakarta Selatan. Di sana
anak-anak kecil sudah kuat berpuasa. Begitu ramainya saat sahur. Bunyi
kentongan, dan teriakan sahut-menyahut. Seakan tak rela jika ada yang terlambat
untuk bangun. Siang hari, anak-anak bermain. Kadang tertidur saat bermain, berharap
hari segera berlalu.
Begitu berbuka,
masing-masing lari ke rumahnya. Kolak pisang dan es timun suri sudah menunggu
di rumah mereka. Sehabis maghrib, para tetangga saling mengajak berangkat tarawih
bersama-sama. Ramai-ramai kami berangkat ke Masjid Mujahidin di kampung sebelah
atas. Kegiatan beribadah hari itu kami
tuntaskan. Ramadan di kampung itu, benar-benar terasa Ramadannya.
Begitu menginjak besar, saya
melewatkan bulan Ramadan dari satu kota ke kota lainnya. Sebagian di Timur
Pulau Jawa. Namun, semarak Ramadan tidak sebesar di rumah pertama. Mungkin
karena rumah kedua bukan di lagi di kampung, tapi di pinggir jalan raya.
Tahun berikutnya pindah ke lain kota
untuk menuntut ilmu, membuat Ramadan dilalui tanpa keluarga. Tak ada lagi makanan hangat yang baru
diangkat dari wajan. Tarawih pun sendirian.
Namun semua dilakukan demi mendapat pahala di bulan Ramadan. Beberapa tahun
Ramadan dilalui seperti itu. Untunglah tahun berikutnya, saya sudah pindah ke
wilayah Jakarta Selatan. Inilah Ramadan ternyaman. Berpenghasilan sendiri, dan
ada orangtua yang menemani.
Beberapa tahun kemudian, Ramadan
menjadi berbeda. Itu karena saya melewatkan Ramadan bersamanya. Saat itu usianya baru sekitar tiga tahun. Ia
selalu mengganggu saat saya memperlancar bacaan Alquran saya.
“Kamu belajar Iqro, ya?,” bujuk saya.
Ia mengangguk.
Sejak itu, ia mulai belajar membaca
satu persatu huruf hijaiyah dibimbing ustadzahnya. Begitu cepat belajarnya.
Saat TK B, ia sudah mencapai Iqro 6. Kelas 1 SD, ia sudah mulai membaca
Alquran. Membacanya masih tertatih-tatih.
Kami lalu mengajaknya ikut tadarus bersama.
Saat itu gilirannya membaca. Ia
membaca dengan sangat lama. Kadang diselingi berhenti dan tarik napas. Kadang
ia seperti ingin mengulur waktu. Membacanya pun masih sering salah. Saya sebenarnya tidak sabar. Target khatam dalam
sebulan tampak berat. Namun, kami tetap menunggunya membaca. Alhamdulillah,
target khatam akhirnya terpenuhi di akhir bulan.
Di usianya yang ketiga, ia mulai
ikut salat tarawih. Sementara anak lainnya bermain, ia salat dengan kusyuknya.
Kalau capai, ia duduk tenang di samping. Tak ada suara berisik yang
ditimbulkannya. Ia pun menjadi kesayangan jamaah masjid.
Bulan Ramadan tahun-tahun berikutnya,
kami tadarusan bersama lagi. Ia mulai lancar membaca. Di sekolah, hafalannya
sudah masuk juz 29, mau tidak mau ia harus bisa membaca Alquran. Tak lagi
bergantung sepenuhnya pada alunan murotal. Kesalahan membacanya pun mulai berkurang.
Tahun berikutnya, kemampuannya sudah
jauh di depan. Ia membaca lebih cepat dan lebih tepat dari saya. Saya pun merasa
kesulitan untuk menyimak hafalannya yang masuk juz 28. Sekarang, ialah yang mengoreksi kesalahan
saya dalam membaca Alquran.
Hari ini saya merasa begitu cepat
waktu berlalu. Ia sudah melampaui saya. Namun saya selalu terkenang saat-saat
ia mulai belajar Iqro, terkenang saat-saat ia tertatih-tatih membaca Alquran. Jika
kau tanya, Ramadan manakah yang paling berkesan? Mungkin Ramadan saat bersamanya
saat itu adalah Ramadan yang paling berkesan untuk saya. Semoga kau tetap istiqomah dengan bacaan
Alquran dan hafalanmu ya, Nak. (buk)
Sumber gambar: belitung.tribunnews.com


1 komentar
Numpang promo ya Admin^^
BalasHapusayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
dengan minimal deposit hanya 20.000
add Whatshapp : +85515373217 ^_~