Dulu Lebih Cantik?
oleh: Saras Sa
“Lo kok jelekan sih, Nar?” celetuk Indah
padaku setelah ia menyesap kopinya. Matanya menatap ponsel, sementara jarinya
tampak sibuk. Aku dan Indah sahabat
karib. Setelah lulus kuliah, kami
berpisah. Indah mendapatkan pekerjaan dan jodohnya di luar negeri, sementara
aku membangun keluarga kecilku di sini. Aku dan Indah terakhir bertemu lima
tahun lalu, saat reuni.
“Lihat
nih, bandingkan foto kita berdua tadi, dan foto lima tahun lalu.” Indah menunjukkan foto-foto di galerinya.
“Beneran kan? Di sini lo lebih cantik.”
Mungkin orang lain tersinggung mendengarnya. Tapi, aku sudah paham betul
sifat Indah yang ceplas-ceplos. Apa yang dirasakannya, langsung saja
dikatakannya.
“Lebay
lo. Jelaslah foto dulu lebih cantik.” Aku tertawa, dan mengharapkan Indah
tertawa juga. Tapi Indah tidak tertawa. Ia menatapku serius.
“Sorry
ya gue bilang ini. Setelah nikah, lo
kelihatan jauh lebih tua. Emang ada masalah? Perusahaan suami lo aman aja kan?”
tanyanya prihatin. Aku tertawa geli.
“Tuh
kan lo lebay lagi. Hidup gue baek-baek
aja. Kebanyakan nonton drama sih lo!” Aku buru-buru menghabiskan kopiku. Kopi
mahal, sayang kalau gak dihabiskan. Kami lalu berpisah.
Saat
aku masuk rumah, Bang Ipul, suamiku sudah menunggu.
“Lama
banget sih. Duit dong buat bensin!” Bang Ipul menyodorkan tangannya.
“Gak
ada duit, Bang.”
“Dasar
bini perhitungan! Mending gue nikahin si Eha!”
Dengan
kesal Bang Ipul menaruh handuk di lehernya, lalu pergi narik angkot. Di pojokan
kamar, menumpuk dua keranjang cucian milik tetangga yang belum dicuci, termasuk
bajunya yang baru saja kupinjam. Aku
mengucek baju itu satu persatu.
“Hidup
makan ati gini, gimana mau cantik?”
250 kata
#AntologiFikMinJA
#FikminJA
#latihanday1
#temaakucantik









