Sekilas tentang Jurusan Teknik Sipil

By bungaungukecil - Oktober 17, 2018




Kemarin di Facebook, seorang teman dari “masa lalu”  tiba-tiba muncul memberi komentar.  Ia menyinggung tentang dunia saya yang lain, dunia emak-emak. Yup, sejak meninggalkan bangku kuliah beberapa puluh tahun yang lalu (ketahuan tuanya deh hehe), saya sekarang memang tidak bergelut lagi dengan sesuatu yang berbau teknik. Pergaulan saya lebih banyak dengan mama-mama teman anak saya. Ingatan pun melayang ke saat itu.
            Waktu pertama kali memilih jurusan Teknik Sipil atau kerennya Civil Engineering, saya sama sekali tidak mengetahui sedikit pun tentang jurusan ini. Cuma saat itu nilai-nilai mata pelajaran esakta terutama matematikalah yang mengantar saya memasuki jurusan ini. Setelah saya masuk kuliah, saya baru mengetahui hal-hal berikut ini.

Kecerdasan visual spasial dan matematika
            Kecerdasan visual spasial diperlukan di sini, karena jurusan ini berhubungan dengan merancang suatu bangunan. Jadi memahami suatu gambar diperlukan. Jangan sampai kita membuat gambar yang janggal dan nggak mungkin dibuat.
            Kemampuan matematika diperlukan dalam pelajaran matematika itu sendiri (dulu materinya persamaan differensial yang sulit banget untuk dipecahkan), dan logika diperlukan hampir dalam semua mata kuliah terutama mata kuliah mekanika (bagian dari ilmu fisika). Sebagian besar matakuliah di jurusan ini memang tentang mekanika.
            Sebenarnya nggak perlu rangking satu untuk kuliah di sini. Cukup suka hitung-hitungan dan punya logika yang kuat,  pasti sukses kuliah di sini.

Harus punya mental yang kuat
            Ternyata kuliah sangat beda sama saat di SMA.  Seperti meloncat jauh ke depan. Banyaknya ilmu baru yang masuk secara bersamaan, adaptasi dengan suasana belajar dan suasana kos, membuat mahasiswa kadang-kadang menjadi down. IP terjun bebas. Itu tuh yang saya alami di semester-semester awal.  Kalau nggak kuat, inginnya langsung permisi aja dan balik ke kampung.  Cuma keinginan kuat untuk menjadi sarjana, yang bisa mengatasi rasa pesimis ini.              

Fisik harus kuat
            Walau pun jumlah sks sama, namun jumlah mata kuliah di jurusan ini lebih banyak dibandingkan di jurusan lainnya. Jadi tak heran tugas matakuliahnya juga banyak.  Praktikum juga lumayan menyita waktu. Bagaimana cara agar tugas-tugas diselesaikan tepat waktu, sehingga diperbolehkan untuk ikut ujian? Nggak ada cara lain. Ngelembur!  Mengerjakan tugas sendirian sampai pagi, sementara yang lainnya pada tidur, hal yang biasa. Kadang-kadang ditemani nyanyian misterius dari kamar mandi lantai atas. Hi, jadi merinding..  (Kalau ini perlu satu judul artikel untuk membahasnya hehe)

Peralatan yang diperlukan
            Peralatan tempur bagi mahasiswa teknik sipil zaman itu adalah kalkulator tipe tertentu. Selain itu meja gambar, rapido, kertas kalkir.  Saya waktu itu tidak mempunyai meja gambar. Jadi untuk keperluan pengerjaan tugas, meminjam meja gambar milik kakak saya yang kuliah di jurusan Teknik Arsitektur. Kalau meja gambarnya dipakai, ya pinjam meja gambar teman yang sedang nganggur hehe..

Bukan cuma bangunan gedung bertingkat
            Zaman saya dulu, bukan cuma belajar tentang perencanaan gedung bertingkat.  Selain matakuliah umum,  saya juga belajar tentang perencanaan Bandara, Pelabuhan, Jembatan, dan lain-lain. Di dunia kerja nanti lulusan jurusan ini bukan cuma merencanakan saja, tapi juga bisa menjadi pengawas pembangunan.

Perluas jaringan pertemanan
            Sewaktu awal semester, saya berusaha mengatasi semuanya sendiri. Saat IP jeblok, saya baru sadar, bahwa saya perlu bantuan orang lain. Saya jadi nggak malu lagi untuk meminjam atau bertanya sesuatu pada siapa pun. Ternyata jejaring pertemanan ini banyak manfaatnya. Setelah lulus, jaringan ini akan membantu teman lainnya dalam memperoleh dan menginfokan pekerjaan.

            Bagaimana soal dana kuliah? Zaman dulu, biaya kuliah sangat murah, apalagi saya kuliah di perguruan tinggi negeri. Jadi nggak begitu masalah. Sebenarnya ada beasiswa untuk mahasiswa. Tapi syaratnya yang gampang-gampang sulit. Gampangnya, prasyarat IPK. Sulitnya, slip gaji ortu yang minimal banget.
            Masalah lainnya mungkin soal makanan hehe. Kadang-kadang bosan juga dengan makanan catering dan warung. Untuk masak sendiri jelas nggak mungkinlah Moms, dengan tugas-tugas yang menumpuk begitu.

            Yang jelas, saya bangga dan senang bisa kuliah di jurusan ini, walau pun kini berkiprah di “dunia lain”. Istilahnya Teknik Sipil tetap ada di hati.  

Gambar civil work, sumber gambar: pixabay       

  • Share:

You Might Also Like

5 komentar

  1. Wah bun anak teknik juga? Tapi bedanya teknik sipil lebih ke bangunan ya kaya arsitek hehe. Saya anak teknik informatika jg merasa zaman SMA ke kuliah itu beda banget. Bengong langsung wkwk. Makasih bun tulisan ini mengingatkan saya jg 4 tahun yg lalu (kalo gak salah, saya lupa tepatnya lulus tahun brp kebangetan wkwk).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu daftar informatika juga, tapi gak diterima hehe... Teknik sipil ini pilihan ke-2.

      Hapus
  2. Wah kereennn anak tekhnik, terkadang reuni dengan masa lalu itu perlu mbak karena banyak kenangan manis yang nggak bisa hilang dan tentunya banyak pengalaman berharga. Semoga lebih barokah dengan'dunia lainnya'mbak, Inshaallah menjadi lahan ibadah. Salam buat keluarga ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Reuni banyakan cowoknya. Yang komen temenku cowok semua hihi. Aamiin doanya mba. Makasih, salam juga buat keluarga

      Hapus
  3. Wah kereennn anak tekhnik, terkadang reuni dengan masa lalu itu perlu mbak karena banyak kenangan manis yang nggak bisa hilang dan tentunya banyak pengalaman berharga. Semoga lebih barokah dengan'dunia lainnya'mbak, Inshaallah menjadi lahan ibadah. Salam buat keluarga ya...

    BalasHapus