Sumber gambar: Wikipedia
Hai, Moms. Sering bepergian
naik kereta? Sewaktu kecil saya senang sekali kalau diajak bepergian naik
kereta api. Kami sekeluarga biasanya naik kereta api dari Jakarta ke Solo,
untuk menjenguk Mbah Puteri. Kami berangkat pada malam hari, dan baru sampai pada
keesokkan paginya. Lama perjalanan kira-kira 12 jam. Lama juga ya hehe.
Zaman dulu kami naik kereta
kelas ekonomi. Pengantar mengantarkan kami sampai naik di atas kereta. Setelah
peluit kereta berbunyi, pengantar buru-buru turun dari kereta, karena kereta
akan segera berangkat. Di kelas ekonomi, satu baris terdiri dari 2
kursi sebelah kiri dan 3 kursi sebelah kanan. Bangkunya saling berhadapan. Jadi
bangku sebelah kiri untuk 4 penumpang, bangku sebelah kanan untuk 6 penumpang.
Begitu kereta berangkat, para
penumpang bersiap makan malam. Mereka membawa bekal masing-masing. Zaman dulu,
jamak para penumpang membawa tas berisi termos, rantang, dan lain-lain. Serasa
piknik ya, Moms hehe.. Menuang air termos pada gelas, tentunya
membutuhkan keahlian sendiri ya, Moms, berhubung goncangan kereta cukup
keras. Namun kebanyakan orang zaman dulu, bisa aja tuh melakukannya.
Bagi yang tidak membawa
bekal, bisa memesan makanan dan minuman pada bagian restorasi. Bagian restorasi
biasanya laki-laki yang sepanjang malam menawarkan minuman teh dan kopi pada
penumpang. Ia membawa makanan itu di atas nampan. Minuman yang
dipesan, kemudian ditaruh di meja kecil di bawah kaca jendela. Harus hati-hati
melakukannya, agar gelas berisi teh atau kopi panas tidak menumpahi badan kita.
Saat beranjak malam, para
penumpang mulai mengantuk. Sebagian akan menggelar selimut atau alas lainnya di
bawah bangku, dan tidur di sana. Pada tengah malam, saat sebagian penumpang
terlelap, kondektur dan anak buahnya akan datang dan memeriksa karcis penumpang.
Di stasiun yang cukup besar,
seperti Cirebon dan Purwokerto, kereta akan berhenti. Bagi yang tertidur, akan
bertanya-tanya sudah sampai di stasiun mana. Kemudian para pedagang masuk ke
dalam kereta dan memberitahukan pada penumpang bahwa kereta sudah masuk stasiun
mana. Para pedagang kemudian menawarkan dagangan mereka. Mereka berjalan di
lorong kereta, sehingga para penumpang yang tidur di lorong terpaksa bangun.
Ditambah bagian restorasi yang mondar-mandiri menawarkan minuman dan makanan,
bisa dibayangkan riuhnya suasana dalam kereta.
Sewaktu saya remaja, saya
tidak naik kereta ekonomi lagi. Kali ini saya naik kelas bisnis. Satu baris
terdiri dari empat orang, dan semuanya menghadap ke depan, kecuali jika
penumpang ingin menghadap belakang, maka kursinya bisa diputar. Ruangan dalam
kereta memakai kipas angin. Di kelas bisnis, tidak seriuh kelas ekonomi, walau
pun masih ada yang tidur di bawah bangku, dan pedagang diperbolehkan masuk
kereta.
Terakhir saya naik kereta
enam tahun lalu. Suasana memang berubah jauh. Karena kebetulan kami
duduk di kelas eksekutif, tentunya suasana lebih nyaman. Tidak ada orang yang
tidur di lorong. Tidak ada pedagang masuk ke dalam kereta. Bagian restorasi
hanya menawarkan makanan saat jam makan saja.
Lalu bagaimana keadaan kereta
sekarang?
Sumber gambar: solo.tribunnews.com
Ketika seminggu lalu saya
pergi ke Jakarta, saya cukup kaget juga. Ada mesin pembelian tiket
otomatis di sana. Jika ingin dilayani petugas, calon penumpang bisa datang ke
counter. Pembelian tiket harus menuliskan nama dan nomor kartu identitas di
kertas pesanan. Setelah mengantri, saya mendapatkan pesanan saya. Namun tiket
tersebut nyaris polos tanpa warna, berbeda dengan biasanya. Saat berangkat, Boarding Pass berwarna
jingga harus dicetak dulu.
Di pintu masuk, saya harus
menunjukkan Boarding Pass dan KTP. Bagi yang belum punya KTP, juga harus
menunjukkan kartu identitas seperti kartu pelajar. Hanya calon penumpang dan
porter yang boleh melewati pintu, sedangkan para pengantar hanya boleh mengantar
sampai di pintu ini, tidak boleh masuk peron. Dulu, Boarding Pass nggak ada. Calon
penumpang cukup menunjukkan tiket dan karcis peron (untuk pengantar) pada
petugas.
Dulu begitu kereta datang,
susah menemukan tempat duduk kita ada di gerbong kereta yang mana. Sekarang di
badan kereta tertulis nomor gerbongnya. Mencari tempat duduk pun lebih mudah.
Di dalam kereta, juga tertulis nomor gerbongnya. Kali ini saya
mencoba kelas eksekutif. Kelasnya nyaman ber-AC, tempat duduknya mempunyai
ruang yang lega. Ada meja kecil di bawah jendela untuk meletakkan
minuman. Colokan charger pun tersedia.
Kebetulan kami berangkat pada pagi hari, jadi matahari pagi masuk ke dalam melalui jendela. Saat matahari mulai panas, tirai dapat ditarik turun. Saat berangkat, ada pengumuman yang disiarkan dalam kereta, tentang tujuan akhir kereta api. Sebelum kereta berhenti di stasiun, selalu ada pemberitahuan.
Sumber gambar: bumn.go.id
Kereta eksekutif juga lebih
cepat. Perjalanan Solo-Jakarta dan sebaliknya hanya delapan jam saja. Goyangan
keretanya pun lebih halus. Jika enam tahun yang lalu, makanan harus dipesan
terlebih dulu, sekarang pramugari kereta membawa makanan yang sudah dikemas,
dan bisa langsung disantap. Tugas kondektur tidak lagi memeriksa tiket, tapi
memastikan kenyamanan penumpang.
“Apakah
AC-nya kurang dingin Bu?” sapa Kondektur pada saya saat perjalanan pulang
Jakarta-Solo. Saya kaget juga, karena sejak zaman dulu Pak Kondektur
menyapa untuk menanyakan tiket, hehe… Tapi, untuk semua kenyamanan, tentu ada
harga yang sebanding ya, Moms. Untuk harga tiket kereta kelas eksekutif
sekarang bisa dibilang hampir sama dengan harga tiket pesawat udara tujuan yang
sama. Namun enaknya untuk kereta ada beberapa pilihan harga,
tergantung gerbongnya, dan hari yang dipilih. Untuk hari-hari tertentu, harga
tiketnya tentu lebih mahal dari hari biasa.




8 komentar
Jadi ingat anak saya yang paling kecil pengen banget naik kereta, terakhir dia naik kereta dia masih kecil banget jadi mungkin sudah lupa kali yaaa...
BalasHapusmudah mudahan bisa segera naik kereta lagi sama anak..hehe
Ajak lagi aja, Mbak. Naik kereta sekarang udah nyaman..
HapusSama Mba Saya waktu kecil langganan Mudik Dr Bandung ke purworejo Naik kereta api, suasananya beda sekali dgn sekarang, dulu banyak pedagang, WC nya kurang terawat, sekarang jauh lebih nyaman, pesan tiketnya bisa via online, WC nya sangat bersih, ada AC, pelayanannya pun jauh lebih baik
BalasHapusIya pesan tiket bisa online. Dulu sih, ngantri sambil bawa kardus sampai puanjaang banget antriannya hehe..
HapusSaya belum pernah malah naik kereta dulu, lahirnya belakangan 🤭😂. Tapi kereta sekarang mah emang udah nyaman ya. Jadi kangen udah 2 tahun terakhir dari naik kereta hehe.
BalasHapusMakasih mbak info dan sharingnya. Malahan saya belum coba naik kereta api jaman sekarang hehe. Ntar mau coba ahh
BalasHapusSaya pernah juga mengalami naik kereta zaman dulu dan sekarang. Yaa wakaupun perjalanannya cuma dari bumiayu ke semarang. Tapi terasa sekali bedanya pelayanan di kereta api. Syukurlah alat transportasi kita membaik.
BalasHapusKeren y mbaa,
BalasHapusSy naik kereta tahun 2013 dulu waktu ke jakarta
Cuma distasiunnya masih kurang tertib, semoga sekarang sudah tertip antri ya mba seperti di luar negeri