Naik Kereta, Dulu dan Sekarang

By bungaungukecil - November 05, 2018

Sumber gambar: Wikipedia

Hai, Moms. Sering bepergian naik kereta?  Sewaktu kecil saya senang sekali kalau diajak bepergian naik kereta api. Kami sekeluarga biasanya naik kereta api dari Jakarta ke Solo, untuk menjenguk Mbah Puteri. Kami berangkat pada malam hari, dan baru sampai pada keesokkan paginya. Lama perjalanan kira-kira 12 jam. Lama juga ya hehe.

Zaman dulu kami naik kereta kelas ekonomi. Pengantar mengantarkan kami sampai naik di atas kereta. Setelah peluit kereta berbunyi, pengantar buru-buru turun dari kereta, karena kereta akan segera berangkat. Di kelas ekonomi,  satu baris terdiri dari 2 kursi sebelah kiri dan 3 kursi sebelah kanan. Bangkunya saling berhadapan. Jadi bangku sebelah kiri untuk 4 penumpang, bangku sebelah kanan untuk 6 penumpang.

Begitu kereta berangkat, para penumpang bersiap makan malam. Mereka membawa bekal masing-masing. Zaman dulu, jamak para penumpang membawa tas berisi termos, rantang, dan lain-lain. Serasa piknik ya, Moms hehe..  Menuang air termos pada gelas, tentunya membutuhkan keahlian sendiri ya, Moms, berhubung goncangan kereta  cukup keras. Namun kebanyakan orang zaman dulu, bisa aja tuh melakukannya.

Bagi yang tidak membawa bekal, bisa memesan makanan dan minuman pada bagian restorasi. Bagian restorasi biasanya laki-laki yang sepanjang malam menawarkan minuman teh dan kopi pada penumpang. Ia membawa makanan itu di atas nampan.  Minuman yang dipesan, kemudian ditaruh di meja kecil di bawah kaca jendela. Harus hati-hati melakukannya, agar gelas berisi teh atau kopi panas tidak menumpahi badan kita.

Saat beranjak malam, para penumpang mulai mengantuk. Sebagian akan menggelar selimut atau alas lainnya di bawah bangku, dan tidur di sana. Pada tengah malam, saat sebagian penumpang terlelap, kondektur dan anak buahnya akan datang dan memeriksa karcis penumpang.

Di stasiun yang cukup besar, seperti Cirebon dan Purwokerto, kereta akan berhenti. Bagi yang tertidur, akan bertanya-tanya sudah sampai di stasiun mana. Kemudian para pedagang masuk ke dalam kereta dan memberitahukan pada penumpang bahwa kereta sudah masuk stasiun mana. Para pedagang kemudian menawarkan dagangan mereka. Mereka berjalan di lorong kereta, sehingga para penumpang yang tidur di lorong terpaksa bangun. Ditambah bagian restorasi yang mondar-mandiri menawarkan minuman dan makanan, bisa dibayangkan riuhnya suasana dalam kereta.

Sewaktu saya remaja, saya tidak naik kereta ekonomi lagi. Kali ini saya naik kelas bisnis. Satu baris terdiri dari empat orang, dan semuanya menghadap ke depan, kecuali jika penumpang ingin menghadap belakang, maka kursinya bisa diputar. Ruangan dalam kereta memakai kipas angin. Di kelas bisnis, tidak seriuh kelas ekonomi, walau pun masih ada yang tidur di bawah bangku, dan pedagang diperbolehkan masuk kereta.

Terakhir saya naik kereta enam tahun lalu. Suasana memang berubah jauh.  Karena kebetulan kami duduk di kelas eksekutif, tentunya suasana lebih nyaman. Tidak ada orang yang tidur di lorong. Tidak ada pedagang masuk ke dalam kereta. Bagian restorasi hanya menawarkan makanan saat jam makan saja.


Lalu bagaimana keadaan kereta sekarang?

Sumber gambar: solo.tribunnews.com

Ketika seminggu lalu saya pergi ke Jakarta, saya cukup kaget juga. Ada mesin  pembelian tiket otomatis di sana. Jika ingin dilayani petugas, calon penumpang bisa datang ke counter. Pembelian tiket harus menuliskan nama dan nomor kartu identitas di kertas pesanan. Setelah mengantri, saya mendapatkan pesanan saya. Namun tiket tersebut nyaris polos tanpa warna, berbeda dengan biasanya. Saat berangkat, Boarding Pass berwarna jingga harus dicetak dulu.

Di pintu masuk, saya harus menunjukkan Boarding Pass dan KTP. Bagi yang belum punya KTP, juga harus menunjukkan kartu identitas seperti kartu pelajar. Hanya calon penumpang dan porter yang boleh melewati pintu, sedangkan para pengantar hanya boleh mengantar sampai di pintu ini, tidak boleh masuk peron. Dulu, Boarding Pass nggak ada.  Calon penumpang cukup menunjukkan tiket dan karcis peron (untuk pengantar) pada petugas.

Dulu begitu kereta datang, susah menemukan tempat duduk kita ada di gerbong kereta yang mana. Sekarang di badan kereta tertulis nomor gerbongnya. Mencari tempat duduk pun lebih mudah. Di dalam kereta, juga tertulis nomor gerbongnya.  Kali ini saya mencoba kelas eksekutif. Kelasnya nyaman ber-AC, tempat duduknya mempunyai ruang yang lega.  Ada meja kecil di bawah jendela untuk meletakkan minuman. Colokan charger pun tersedia. 

Kebetulan kami berangkat pada pagi hari, jadi matahari pagi masuk ke dalam melalui jendela. Saat matahari mulai panas,  tirai dapat ditarik turun. Saat berangkat, ada pengumuman yang disiarkan dalam kereta, tentang tujuan akhir kereta api. Sebelum kereta berhenti di stasiun, selalu ada pemberitahuan.

Sumber gambar: bumn.go.id

Kereta eksekutif juga lebih cepat. Perjalanan Solo-Jakarta dan sebaliknya hanya delapan jam saja. Goyangan keretanya pun lebih halus. Jika enam tahun yang lalu, makanan harus dipesan terlebih dulu, sekarang pramugari kereta membawa makanan yang sudah dikemas, dan bisa langsung disantap. Tugas kondektur tidak lagi memeriksa tiket, tapi memastikan kenyamanan penumpang.

            “Apakah AC-nya kurang dingin Bu?” sapa Kondektur pada saya saat perjalanan pulang Jakarta-Solo.  Saya kaget juga, karena sejak zaman dulu Pak Kondektur menyapa untuk menanyakan tiket, hehe… Tapi, untuk semua kenyamanan, tentu ada harga yang sebanding ya, Moms. Untuk harga tiket kereta kelas eksekutif sekarang bisa dibilang hampir sama dengan harga tiket pesawat udara tujuan yang sama.  Namun enaknya untuk kereta ada beberapa pilihan harga, tergantung gerbongnya, dan hari yang dipilih. Untuk hari-hari tertentu, harga tiketnya tentu lebih mahal dari hari biasa.

            Demikian Moms, cerita pengalaman saya naik kereta zaman dulu dan sekarang.  Naik kereta api, tut..tut..tut… Siapa hendak turut…   

  • Share:

You Might Also Like

8 komentar

  1. Jadi ingat anak saya yang paling kecil pengen banget naik kereta, terakhir dia naik kereta dia masih kecil banget jadi mungkin sudah lupa kali yaaa...
    mudah mudahan bisa segera naik kereta lagi sama anak..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajak lagi aja, Mbak. Naik kereta sekarang udah nyaman..

      Hapus
  2. Sama Mba Saya waktu kecil langganan Mudik Dr Bandung ke purworejo Naik kereta api, suasananya beda sekali dgn sekarang, dulu banyak pedagang, WC nya kurang terawat, sekarang jauh lebih nyaman, pesan tiketnya bisa via online, WC nya sangat bersih, ada AC, pelayanannya pun jauh lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pesan tiket bisa online. Dulu sih, ngantri sambil bawa kardus sampai puanjaang banget antriannya hehe..

      Hapus
  3. Saya belum pernah malah naik kereta dulu, lahirnya belakangan 🤭😂. Tapi kereta sekarang mah emang udah nyaman ya. Jadi kangen udah 2 tahun terakhir dari naik kereta hehe.

    BalasHapus
  4. Makasih mbak info dan sharingnya. Malahan saya belum coba naik kereta api jaman sekarang hehe. Ntar mau coba ahh

    BalasHapus
  5. Saya pernah juga mengalami naik kereta zaman dulu dan sekarang. Yaa wakaupun perjalanannya cuma dari bumiayu ke semarang. Tapi terasa sekali bedanya pelayanan di kereta api. Syukurlah alat transportasi kita membaik.

    BalasHapus
  6. Keren y mbaa,
    Sy naik kereta tahun 2013 dulu waktu ke jakarta

    Cuma distasiunnya masih kurang tertib, semoga sekarang sudah tertip antri ya mba seperti di luar negeri

    BalasHapus