Kemarin di Facebook, seorang teman
dari “masa lalu” tiba-tiba muncul
memberi komentar. Ia menyinggung tentang
dunia saya yang lain, dunia emak-emak. Yup, sejak meninggalkan bangku kuliah
beberapa puluh tahun yang lalu (ketahuan tuanya deh hehe), saya sekarang memang
tidak bergelut lagi dengan sesuatu yang berbau teknik. Pergaulan saya lebih
banyak dengan mama-mama teman anak saya. Ingatan pun melayang ke saat itu.
Waktu
pertama kali memilih jurusan Teknik Sipil atau kerennya Civil Engineering, saya
sama sekali tidak mengetahui sedikit pun tentang jurusan ini. Cuma saat itu
nilai-nilai mata pelajaran esakta terutama matematikalah yang mengantar saya
memasuki jurusan ini. Setelah saya masuk kuliah, saya baru mengetahui hal-hal
berikut ini.
Kecerdasan
visual spasial dan matematika
Kecerdasan
visual spasial diperlukan di sini, karena jurusan ini berhubungan dengan
merancang suatu bangunan. Jadi memahami suatu gambar diperlukan. Jangan sampai
kita membuat gambar yang janggal dan nggak mungkin dibuat.
Kemampuan
matematika diperlukan dalam pelajaran matematika itu sendiri (dulu materinya
persamaan differensial yang sulit banget untuk dipecahkan), dan logika
diperlukan hampir dalam semua mata kuliah terutama mata kuliah mekanika (bagian
dari ilmu fisika). Sebagian besar matakuliah di jurusan ini memang tentang
mekanika.
Sebenarnya
nggak perlu rangking satu untuk kuliah di sini. Cukup suka hitung-hitungan dan
punya logika yang kuat, pasti sukses
kuliah di sini.
Harus
punya mental yang kuat
Ternyata
kuliah sangat beda sama saat di SMA.
Seperti meloncat jauh ke depan. Banyaknya ilmu baru yang masuk secara
bersamaan, adaptasi dengan suasana belajar dan suasana kos, membuat mahasiswa
kadang-kadang menjadi down. IP terjun
bebas. Itu tuh yang saya alami di semester-semester awal. Kalau nggak kuat, inginnya langsung permisi
aja dan balik ke kampung. Cuma keinginan
kuat untuk menjadi sarjana, yang bisa mengatasi rasa pesimis ini.
Fisik harus kuat
Walau
pun jumlah sks sama, namun jumlah mata kuliah di jurusan ini lebih banyak
dibandingkan di jurusan lainnya. Jadi tak heran tugas matakuliahnya juga
banyak. Praktikum juga lumayan menyita
waktu. Bagaimana cara agar tugas-tugas diselesaikan tepat waktu, sehingga diperbolehkan
untuk ikut ujian? Nggak ada cara lain. Ngelembur! Mengerjakan tugas sendirian sampai pagi,
sementara yang lainnya pada tidur, hal yang biasa. Kadang-kadang ditemani
nyanyian misterius dari kamar mandi lantai atas. Hi, jadi merinding.. (Kalau ini perlu satu judul artikel untuk
membahasnya hehe)
Peralatan yang
diperlukan
Peralatan
tempur bagi mahasiswa teknik sipil zaman itu adalah kalkulator tipe tertentu.
Selain itu meja gambar, rapido, kertas kalkir.
Saya waktu itu tidak mempunyai meja gambar. Jadi untuk keperluan
pengerjaan tugas, meminjam meja gambar milik kakak saya yang kuliah di jurusan
Teknik Arsitektur. Kalau meja gambarnya dipakai, ya pinjam meja gambar teman
yang sedang nganggur hehe..
Bukan cuma bangunan
gedung bertingkat
Zaman
saya dulu, bukan cuma belajar tentang perencanaan gedung bertingkat. Selain matakuliah umum, saya juga belajar tentang perencanaan
Bandara, Pelabuhan, Jembatan, dan lain-lain. Di dunia kerja nanti lulusan
jurusan ini bukan cuma merencanakan saja, tapi juga bisa menjadi pengawas
pembangunan.
Perluas
jaringan pertemanan
Sewaktu
awal semester, saya berusaha mengatasi semuanya sendiri. Saat IP jeblok, saya
baru sadar, bahwa saya perlu bantuan orang lain. Saya jadi nggak malu lagi untuk
meminjam atau bertanya sesuatu pada siapa pun. Ternyata jejaring pertemanan ini
banyak manfaatnya. Setelah lulus, jaringan ini akan membantu teman lainnya
dalam memperoleh dan menginfokan pekerjaan.
Bagaimana soal dana kuliah? Zaman dulu, biaya kuliah sangat murah, apalagi saya kuliah di
perguruan tinggi negeri. Jadi nggak begitu masalah. Sebenarnya ada beasiswa
untuk mahasiswa. Tapi syaratnya yang gampang-gampang sulit. Gampangnya,
prasyarat IPK. Sulitnya, slip gaji ortu yang minimal banget.
Masalah
lainnya mungkin soal makanan hehe. Kadang-kadang bosan juga dengan makanan
catering dan warung. Untuk masak sendiri jelas nggak mungkinlah Moms, dengan
tugas-tugas yang menumpuk begitu.
Yang
jelas, saya bangga dan senang bisa kuliah di jurusan ini, walau pun kini
berkiprah di “dunia lain”. Istilahnya Teknik Sipil tetap ada di hati.
Gambar civil work, sumber gambar: pixabay
Gambar civil work, sumber gambar: pixabay


